Minggu, 08 November 2015

Kereta api

Sama seperti aku mempertanyakan tiap rentetan bunyi yang tercipta saat kereta api melaju, aku mempertanyakan bagaimana kita bisa menciptakan harmoni kehidupan..

Punggungmu dan senjaku

Aku tidak tahu mengapa aku terperangkap dalam konspirasi semesta untuk bertemu denganmu.
Yang ku tahu adalah aku sibuk bertanya jalan pulang.
Bersama bayangan saat terik ada, itulah temanku.
Aku tidak tahu mengapa aku menatap punggungmu saat berjalan.
Yang ku tahu, kamu tidaklah lebih dari sekedar orang asing yang menjadi teman sesaat untuk berjalan menyusuri jalanan itu.
Ya kamu orang asing.
Tahukah kamu, aku tak butuh peta, tak butuh kompas.
Seperti gaya electromagnetic, aku dan kamu berjalan menyusur menuju inti atom.
Tak perlu tahu berapa lama kita berjalan tanpa saling bertatap mata.
Yang kau perlu tahu adalah bagaimana rasanya menatap punggungmu.
Punggungmu seperti sudah kukenal ribuan tahun sebelum hari ini.
Punggungmu seperti menawarkan kenyamanan yang pernah dirasakan ribuan tahun sebelum hari ini.
Punggungmu seperti sandaran yang selalu aku puja ribuan tahun sebelum hari ini.
Lalu, kau terdiam. Menikmati irama senja.
Aku juga. Menikmatimu menikmatinya.
Menikmatimu membuatku tertegun, membuatmu tak acuhkan aku yang diam diam merasuki irama senjamu.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Empat detik
Lima detik
Itulah waktu yang dibutuhkan untukmu menikmati senja didalam mataku.
Senja padam.
Kita berdua mulai hanyut dalam ombak manusia.
Pulang.
Itulah yang menyebabkan kita berpisah.
Tapi percayalah kau dan aku akan kembali bertemu.
Menyusuri jalan yang sama.
Menikmati senja yang sama.
Ribuan tahun lagi.
Untuk pulang, kembali berpisah, dan bertemu kembali.